Hutang lancar (current liabilities) adalah kewajiban perusahaan yang harus dilunasi dalam jangka waktu:
Kurang dari 1 tahun, atau
Dalam satu siklus operasi perusahaan
Hutang lancar muncul karena perusahaan:
Membeli barang secara kredit
Menggunakan jasa yang belum dibayar
Memiliki kewajiban kepada pihak lain
Perusahaan membeli barang sekarang, bayar bulan depan
→ menjadi hutang lancar
Ciri-ciri hutang lancar:
Jangka waktu pendek
Harus segera dilunasi
Berhubungan dengan operasional perusahaan
Mempengaruhi likuiditas perusahaan
Jika tidak dikelola dengan baik:
Perusahaan bisa kekurangan kas
Bisa gagal bayar
Utang yang timbul dari pembelian barang atau jasa secara kredit.
Toko membeli barang dari supplier secara kredit
→ dicatat sebagai utang usaha
Tidak berbunga
Jangka pendek
Kewajiban perusahaan kepada pemerintah.
Pajak penghasilan (PPh)
Pajak pertambahan nilai (PPN)
Perusahaan memungut PPN dari pelanggan → harus disetor ke negara
Gaji karyawan yang sudah menjadi hak tetapi belum dibayar.
Gaji bulan ini dibayar bulan depan
Bunga pinjaman yang sudah menjadi kewajiban tetapi belum dibayar.
Perusahaan memiliki pinjaman bank → bunga harus dibayar setiap periode
Uang yang sudah diterima tetapi jasa belum diberikan.
Kursus dibayar di awal
Langganan aplikasi
Platform digital:
User bayar langganan 1 tahun
Tapi layanan diberikan bertahap
Utang listrik
Utang air
Utang sewa
Beban / Persediaan
Utang
Membeli barang kredit Rp5.000.000
Persediaan Rp5.000.000
Utang Usaha Rp5.000.000
Utang
Kas
Pengelolaan hutang sangat penting untuk menjaga keuangan perusahaan.
Menghindari keterlambatan pembayaran
Menjaga hubungan dengan supplier
Menghindari denda
Membuat jadwal pembayaran
Mengontrol arus kas
Memanfaatkan diskon pembayaran
Syarat kredit: 2/10, n/30
→ perusahaan bisa hemat dengan bayar lebih cepat
Kewajiban kontinjensi adalah kewajiban yang:
Belum pasti terjadi
Bergantung pada peristiwa di masa depan
Bisa terjadi, bisa tidak
Bergantung pada kejadian di masa depan
Nilainya belum pasti
Tidak selalu dicatat dalam laporan keuangan
Bisa hanya diungkapkan dalam catatan
Perusahaan sedang digugat di pengadilan.
Jika kalah → harus membayar
Jika menang → tidak ada kewajiban
Perusahaan digugat konsumen karena produk cacat
Perusahaan memberikan jaminan atas produk yang dijual.
Garansi 1 tahun untuk elektronik
Jika produk rusak:
→ perusahaan harus memperbaiki atau mengganti
Perusahaan menjamin kualitas produk.
E-commerce:
Garansi uang kembali
Retur barang
Kemungkinan besar terjadi
Nilainya dapat diestimasi
Kemungkinan terjadi, tetapi belum pasti
Kemungkinan kecil terjadi
Perusahaan digugat Rp100 juta
Kemungkinan kalah besar
Nilai dapat diperkirakan
→ harus dicatat sebagai kewajiban
Hutang lancar dicatat sebagai kewajiban
Beban terkait hutang
Kerugian kontinjensi
Menjelaskan kewajiban kontinjensi
Banyak utang usaha ke supplier
Garansi produk
Pendapatan diterima di muka
Refund pelanggan
Risiko gugatan hukum
Kontrak besar
Marketplace:
Harus siap refund
Menanggung komplain pelanggan
Tidak mencatat hutang dengan benar
Lupa mencatat utang kecil (listrik, dll)
Tidak mengungkapkan kewajiban kontinjensi
Mengabaikan risiko masa depan
Hutang lancar merupakan kewajiban jangka pendek yang harus segera dibayar oleh perusahaan, sedangkan kewajiban kontinjensi merupakan kewajiban yang belum pasti dan bergantung pada kejadian di masa depan.
Pengelolaan hutang yang baik akan membantu perusahaan:
Menjaga likuiditas
Menghindari risiko keuangan
Menyusun laporan keuangan yang akurat