Investasi jangka panjang adalah investasi yang dimiliki perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam waktu dekat.
Investasi ini biasanya dilakukan untuk:
Tujuan strategis
Hubungan bisnis jangka panjang
Pengembangan usaha
Investasi jangka panjang sering kali berupa:
Saham perusahaan lain
Obligasi jangka panjang
Investasi pada anak perusahaan atau afiliasi
Perusahaan A membeli 30% saham perusahaan B
→ bertujuan ikut mengelola dan mendapatkan keuntungan jangka panjang
Ciri-ciri investasi jangka panjang:
Dimiliki lebih dari 1 tahun
Tidak mudah dicairkan
Bertujuan strategis, bukan trading
Memiliki potensi pengaruh terhadap perusahaan lain
Perusahaan mendapatkan pembagian laba secara rutin.
Jika kepemilikan besar:
→ dapat ikut menentukan kebijakan perusahaan lain
Melalui investasi, perusahaan bisa:
Masuk ke pasar baru
Mengembangkan bisnis
Investasi dapat mempererat hubungan antar perusahaan.
Perusahaan makanan membeli saham perusahaan distribusi
→ agar distribusi produknya lebih kuat
Tidak memiliki pengaruh signifikan
Menggunakan metode biaya
Memiliki pengaruh signifikan
Menggunakan metode ekuitas
Mengendalikan perusahaan lain
Disebut anak perusahaan
Menggunakan laporan konsolidasi
Digunakan jika perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan.
Dicatat sebesar harga perolehan
Tidak berubah meskipun perusahaan investee untung/rugi
Dividen diakui sebagai pendapatan
Perusahaan membeli saham Rp10.000.000
Jika menerima dividen Rp1.000.000:
Jurnal:
Kas Rp1.000.000
Pendapatan Dividen Rp1.000.000
Digunakan jika perusahaan memiliki pengaruh signifikan (20%–50%).
Nilai investasi berubah sesuai laba/rugi perusahaan investee
Dividen mengurangi nilai investasi
Mencerminkan kepemilikan ekonomi yang lebih nyata
Jika investee laba → nilai investasi naik
Jika investee rugi → nilai investasi turun
Jika menerima dividen → nilai investasi turun
Investasi awal: Rp10.000.000
Laba investee: Rp2.000.000
Kepemilikan: 30%
Bagian laba:
= 30% × 2.000.000 = 600.000
Investasi Rp600.000
Pendapatan Investasi Rp600.000
Jika menerima dividen Rp300.000:
Kas Rp300.000
Investasi Rp300.000
Jika kepemilikan lebih dari 50%:
Disebut perusahaan induk dan anak perusahaan
Harus membuat laporan keuangan konsolidasi
Menyajikan laporan sebagai satu kesatuan ekonomi
Perusahaan besar memiliki banyak anak perusahaan di berbagai bidang:
Distribusi
Produksi
Digital
Jika nilai investasi menurun secara signifikan dan permanen, maka harus dilakukan penyesuaian.
Perusahaan investee mengalami kerugian
Kondisi ekonomi buruk
Nilai pasar turun drastis
Nilai investasi dikurangi
Dicatat sebagai kerugian
Kinerja perusahaan investee buruk
Perubahan ekonomi
Perubahan regulasi
Risiko manajemen
Perusahaan investasi di startup
→ startup gagal berkembang
→ nilai investasi turun
Investasi pada anak perusahaan
Ekspansi bisnis
Venture capital (modal investasi)
Investasi pada perusahaan digital
Investasi pada proyek infrastruktur
Penyertaan modal negara
Perusahaan teknologi membeli saham startup lain untuk:
Mengembangkan ekosistem
Menguasai pasar
Dicatat sebagai aset tidak lancar
Pendapatan investasi
Bagian laba investee
Investasi → arus kas keluar
Dividen → arus kas masuk
Salah menentukan metode pencatatan
Tidak memperhitungkan pengaruh signifikan
Tidak mencatat perubahan nilai investasi
Tidak melakukan evaluasi kinerja investee
Investasi jangka panjang merupakan strategi penting bagi perusahaan untuk mengembangkan usaha, memperoleh pendapatan, dan memperluas pengaruh bisnis.
Pengelolaan investasi ini membutuhkan:
Pemilihan metode akuntansi yang tepat
Analisis yang matang
Pengawasan yang berkelanjutan
Dengan pengelolaan yang baik, investasi jangka panjang dapat menjadi sumber pertumbuhan dan kekuatan perusahaan di masa depan.
Perbedaan dengan investasi jangka pendek:
Aspek Jangka Pendek Jangka Panjang
Tujuan Trading Strategis
Waktu < 1 tahun > 1 tahun
Likuiditas Tinggi Rendah
Fokus Keuntungan cepat Pertumbuhan