Penilaian persediaan merupakan proses menentukan nilai persediaan yang akan dilaporkan dalam laporan keuangan. Nilai persediaan sangat penting karena mempengaruhi jumlah aset yang dilaporkan dalam neraca serta mempengaruhi harga pokok penjualan yang akan menentukan besarnya laba perusahaan.
Kesalahan dalam penilaian persediaan dapat menyebabkan laporan keuangan menjadi tidak akurat sehingga dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para pengguna laporan keuangan.
Dalam menentukan nilai persediaan, perusahaan harus menentukan biaya apa saja yang termasuk dalam harga perolehan persediaan.
Biaya tersebut meliputi:
Harga pembelian merupakan biaya utama dalam memperoleh persediaan.
Biaya transportasi yang dikeluarkan untuk membawa barang dari pemasok ke gudang perusahaan.
Biaya perlindungan terhadap risiko kerusakan atau kehilangan barang selama pengiriman.
Biaya yang dikeluarkan untuk memindahkan atau menyimpan barang di gudang.
Beberapa biaya tidak boleh dimasukkan ke dalam nilai persediaan, antara lain:
biaya administrasi
biaya pemasaran
biaya penyimpanan yang tidak normal
kerugian akibat kerusakan barang
Dalam kondisi tertentu perusahaan perlu melakukan estimasi nilai persediaan tanpa melakukan perhitungan fisik.
Metode ini digunakan untuk memperkirakan nilai persediaan berdasarkan persentase laba kotor dari penjualan.
Metode ini digunakan terutama oleh perusahaan ritel dengan cara membandingkan harga jual dengan harga perolehan.
Jika nilai pasar persediaan lebih rendah daripada biaya perolehannya, maka perusahaan harus menurunkan nilai persediaan tersebut.
Prinsip yang digunakan adalah:
Lower of Cost or Market (LCM)
Persediaan dilaporkan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai pasar.